moetzsyifa

Just The Way You Are

Nikah

on July 28, 2011

Pernikahan adalah akad untuk beribadah kepada allah, akad ubtuk menegakan syariat allah dan akad untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.

Pernikahan adalah akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk saling mencintai karena allah, akad untuk saling menghormati dan menghargai, akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling menguatkan keimanan akad untuk saling membantu dan meringankan beban akad untuk saling menasihati serta akad untuk setia kepada pasangannya baik dalam suka dan duka, dalam kefakiran dan kekayaan, juga dalam sakit dan sehat.

Syariat Menyuruh Menikah

Secara bahasa nikah bermakna himpunan atau kesatuan, yaitu berhimpunnya suatu dengan yang lainnya. Adapun pendapat dari Al-azhari yang menyebutkan bahwa kata nikah dalam bahasa Arab berarti jimak (hubungan suami istri).

Islam meletakkan pernikahan sebagai bagian yang utuh dari keberagamaan seseorang. Artinya, dengan beragama Islam nya seseorang pada saat yang sama kepadanya dikenakan aturan pernikahan. Rasulullah telah bersabda:

Apabila seseorang melaksanakan pernikahan berarti telah menyempurnakan separuh agamanya maka hendaklah ia menjaga separuh yang lain dengan bertakwa kepada Allah. (HR. Baihaqi dari Anas  bin Malik)

Menikah adalah bagian dari sunnahku. Maka barang siapa tidak mengamalkan sunnahku, ia tidak temasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti. (HR. Ibnu Majah dari Aisyah r.a)

Anas bin Malik r.a. menceritakan ada tiga kelempok orang (yang jumlahnya di bawah sepuluh) datang ke rumah para istri Nabi Saw. Untuk menanyakan tentang ibadah Nabi saw. Setelah diberi tahu maka mereka merasa ibadah mereka sangat sedikit. Mereka berkata “ Dimanakah kita ini dibandingkan dengan Nabi saw padahal kesalahan beliau pasti diampuni baik yang terdahulu maupun yang akan datang.”

Berkatalah salah seorang diantara mereka “Saya akan shalat malam terus-menerus.” Sedang yang lain berkata, ”Saya akan berpuasa sepanjan masa dan tidak akan berbuka.” Seorang lagi berkata,”Saya akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Rasululullah datang kepada mereka dan bersabda:

“Kaliankah yang telah mengucapkan begini dan begini? Ketahuilah, demi Allah , sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut diantara kamu kepada Allah dan paling takwa kepadanya. Tetapi aku berpuasadan aku berbuka, aku shalat malam dan aku tidur, dan aku menikah dengan wanita. Maka barang siapa yang membenci sunahku ia bukan dari golonganku.” (H.R bukhari Muslim)

Persiapan diri menjelang pernikahan

1. Persiapan moral dan spiritual

Persiapan secara spiritual ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa keraguan tatkalaa memutuskan untuk menikah dengan egala konsekuensi atau risiko yang akan dihadapi pasca pernikaha.

Sebelum memutuskan untuk menikah, persiapan diri dari segi moral sangat signifikan . ingatlah pernyataan allah tentang wanita yang beriman adalah untuk laki-laki yang beriman dan wanita-wanita pezina adalah untuk laki-laki pezina. (Q.S An Nur 3,26)

Adapun cara mempersiapkan moralitas untuk para calon pengantin, sebagaimana yang terjadi pada kurun kenabian, adalah dengan meningkatkan pengetahuan agama dan perbaikan diri secara kontinu melalui forum tarbiyah, taklim, traiming, berguru secara khusus, membaca, silaturahmi, dan banyak wasilah lain. Selain itu jadikan diri agar cinta beramal saleh dan ihsan.

Persiapan spiritual bisa dilakukan dengan berbagai tuntunan ibadah baik yang wajib maupun yang di sunahkan. Senantiasa berdoa kepada allah agar mendapat kekuatan dan kemantapan hati dalam meniti hidup sehingga tidak melenceng dari kebenaran.

2. Persiapan konsepsional

Ditandai dengan dikuasainya berbagai hukum, etika, aturan, dan pernik-pernik pernikahan serta kerumahtanggaan. Persiapan ini dilakukan agar kehidupan rumah tangga nanti tidak berjalan menurut kebanyakan orang yang telah melakukan .

Cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan persiapan konsepsional adalah dengan banyak belajarbaik dengan diskusi bertanya kepada ahlinya mengikuti kajian, pembekalan pernikahan, atau dengan membaca buku-buku dan mendengarkn ceramah.

3. Persiapan fisik

Ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi sebagai suami atau istri dengan optimal. Hal lain yang amat penting dalam konteks kesehatan ini adalah pada sisi kesehatan reproduksi. Bahwa laki-laki dan perempuan akan mampu melakukan fungsi reproduksi dengan baik.

4. Persiapan material

Islam meletakkan kewajiban ekonomi ada di tangan suami. Para suami berkewajiban menyediakan kehidupan bagi seorang istri sejak dari kebutuhan konsumsi, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan juga pendiikan serta transportasi. Seluruh biaya kehidupan rumah tangga menjadi kewajiban suami untuk memikulnya. Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda

Dan kalian wajib memberikan nafkah kepada mereka (istri-istri) dan member pakaian secara makruf(HR. Muslim)

Hal ini bukan berarti bahwa istri tidak boleh bekerja produktif. Hanya saja, bukan merupakan sebuah kewajiban pada pihak istri untuk produktif dibidang ekonomi sebagaimana diungkapkan oleh Al hafizh Ibnu Hajar “Wanita itu terhalang untuk bekerja karena menunaikan hak suami,” dengan demikian letak kewajiban suami dan istri dalam konteks materi ini berbeda. Suami wajib bekerja mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, sedangkan istri berkewajiban mengelola keuangan dalam rumah tangga.

5. Persiapan social

Membiasakan diri terlibat dalam kehidupah bermasyarakat merupakan cara melakukan persiapan social. Apabila laki-laki dan perempuan muslim telah mencapai usia dewas hendaknya mereka mengambil peran social di tengah masyarakat sebai bagian utuh cara mereka belajar berinteraksi dalam kemajeukan masyarakat.

Sangat diperlukan pemblajaran dari awal dalam kontes social, agar tidak terjadi kekagetan yang berlebih dalam mengarungi hidup berumah tangga. Dalam hidup bermasyarakat diperlukan ilmu basa-basi agar mampu mensosialisasiksn diri di tengah komunitas masyarakat luas.

Pihak-pihak yang terlibat

Banyak pihak yang ikut terlibat dalam sebuah proses pernikahan, diantaranya adalah orang tua kedua belah pihak, kerabat, dan bahkan tetangga, juga pihak-pihak lain yang berinteraksi secara dekat selama ini dengan calon pengantin.

Wali dalam Pernikahan

Diantara rujukan untuk memahami masalah ini adalah hadits Abu Musa secara marfu bahwa Nabi telah bersabda.

Tidak sah pernikahan, kecuali dengan wali. (H.R Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Pelaksanaan Akad Nikah

Setelah khitbah segeralah diproses akad nikahnya. Jarak waktu antara khitbah dengan pelaksanaan akad nikah tidak ada batas waktu maksimal atau minimal. Prinsipnya adalah menutup terjadinya fitnah.

Tuntunan dan tuntutan akad nikah adalah sederhana ketika elaksaan akad nikah hanyan dituntut adanya mempelai laki-laki dan perempuan, wali perempuan, dua saksi serta mahar. Adanya wali dari perempuan adalah tuntutan syar’i untuk menjadikan pernikahan menjadi lebih bertanggung jawab. Wali dari pihak perempuan berkewajiban menikahkan anaknya, karena ialah yang selama ini bertanggung jawab atas kehidupan anak perempuannya. Dengan menikakan anak perempuannya pada seorang laki-laki ia telah menyerahkan tanggung jawab kepada lelaki tersebut. Wali dari pihak perempuan yang berkewajiban menikahkan dengan ungkapan pokok “saya nikahkan kamu…” dan di jawab oleh mempelai laki-laki, “saya terima pernikahannya…” inilah ungkapan yang sering disebut ijab qabul. Hal ini bisa diungkapkan dengan bahasa apapun.

Sebelum dilaksanakan akad nikah disunahkan untuk disampaikan khotbah nikah yang berisi tentang pesan-pesan kepada mempelai.

Mahar dalam pernikahan

Mahar atau maskawin adalah pemberian wajib dar calon suami kepada perempuan yang akan dinikahi, baik berupa materi ataupun non materi. Allah berfirman:

Dan berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. (An-Nisa : 4)

Dalam bahasa arab maskawin adalah al-mahr, an-nihlah, al-faridhah, ash-shadaq, dan an-nikah. Para ulama sepakat bahwa mahar adalah suatu hal yang disyariatkan, tetapi menyebutkan mahar bukan merupakan syarat dalam akad nikah. Seandainya akad nikah dilaksanakan tanpa menyebutkan mahar maka nikahnya tetap sah dan sang suami tetap berkewajiban memberikan mahar kepada istri. Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitab majmu Al fatwa

Mahar adalah salah satu rukum nikah dan menikah harus dengan mahar baik dengan ditentukan ataupun tidak. Pendapat yang mengatakan bahwa mahar bukanlah tujuan utama dari pernikahan adalah suatu pendapat yang tanpa hakikat dan tidak memiliki dasar, sebab, mahar adalah salah satu rukun nikah dan jika seletakkan persyaratan dalam mahar maka lebih berhak untuk dipenuhi, sebagaimana sabda Nabi “sesungguhnya suatu syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang dengannya dihalalkan bagi kalian untuk (menikmati) faraj wanita.”(H.R bukhari)

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan tatkala menentukan bentuk dan besarnya mahar:

1. Mahar hendaknya sederhana

Rasul saw bersabda, “Sungguh sebaik-baik kaum perempuan adalah yang paling ringan tuntutan maharnya. (H.R Ibnu Hibban dan Ibnu Abbas)

Demikian pula rasul bersabda, “Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan”

Berdasarkan hadits diatas, bukannya rasul ingin meremeh kan perempuan dengan rendahnya mahar, tetapi beliau tidak menginginkan kesulitan dalam proses pernikahan.

2. Hendaknya mahar memberikan manfaat optimal

Mahar berupa materi berbentuk uang ataupun barang yang hendaknya dipikirkan kemanfaatannya. Ada pula mahar berupa non materi, ini pun harus dipilih kan pemberian yang memberikan manfaat yang optimal. Seperti yang dilakukan oleh Ummu Sulaim tatkala dilamar oleh Abu Thalhal. Ia ingin mahar pernikahannya adalah keislaman Abu Thalhah. Ungkapan Tsabit r.a. berikut menggambarkan betapa bermanfaatnya mahar tersebut, “Aku belum pernah mendengar seorang perempuan yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim.” (H.R. Nasa’I dari Tsabit)

3. Mahar tidak boleh diambil kembali

Setelah akad nikah mahar tidak boleh diambil kembali oleh pihak  suami. Sebab mahar adalah milik atau hak istri, kecuali ketika sang istri merelakan sebagian atau seluruh mahar tersebut dikembalikan kepada suami maka tidak ada larangan bagi mereka, sebagaimana firman allah

Kemudian jika menyerahkan kepadamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati maka ambillah pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (An Nisa:4)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: